CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Friday, December 12, 2008

Puisi Rendra-Bulan Kota Jakarta

Bulan telah pingsan
diatas kota Jakarta
Tak seorangpun menatapnya!

O/gerilya kulit limau!
O/betapa lunglainya!

Bulan telah pingsan//
Mama/bulan telah pingsan//
Menusuk tikaman beracun
dari lampu-lampu Kota Jakarta
dan gedung-gedung tak berdarah
berpaling dari bundanya//

Bulannya!Bulannya!
Jamur bundar kedinginan
bocah puat tanpa mainan/
pesta tanpa bunga//

O/kurindu nafas gaib!
O/kurindu sihir mata langit!

Bulat merambat rambat//
Mama/betapa sepi dan sendirinya!

Begitu mati nafas tabuh-tabuhan
maka penari pejamkan mata-matanya//

Bulan telah pingsan
diatas Kota Jakarta
tapi/tak seorang pun menatapnya//

Bulanku!Bulanku!

Tidurlah/Sayang/di hatiku...

Parafrase:Bulan yang menrangi kita di gelap malam yang kita telah lewati telah dilupakan begitu saja. Padahal, sebelum ada lampu atau alat penerang yang sejenisnya bulan sudah menerangi malam malam kita. Maka, dapat dikatakan "pingsan" yaitu dilupakan oleh kita.

Pesan pengarang: Sebenarnya, kita telah melupakan sinar bulan. Jarang yang melihat sinar bulan dimalam harikecuali kalau ingat. Jadi intinya, kita harus berhemat listrik dan tidak melupakan bulan sebagai salah satu pelengkap kehidupan kita.

dikutip dari: kumpulan puisi Rendra: Empat sajak Rendra

1 comments:

Nieh ninie... said...

kalo mnurut q, puisi itu mnggambarkan hiruk pikuk kota jakarta, contohnya sekarang ini.. qta gk akan bisa mrasakan indahnya bulan di kota jakarta...
padahal kalo qta tnggal di tmpat yg jauh dari kriminalitas qta bisa mnikmati indahnya bulan d malam hari..:)